Selasa, 31 Maret 2015

PENYULUHAN UNTUK PARA PETANI WARGA DESA BUNAMEKAR



Penyuluhan Adaptasi dan mitigasi dampak kekeringan dan anomali cuaca untuk para petani warga desa Buana Mekar dilakukan  pada hari Kamis, tanggal 29 Januari 2015. Lokasi penyuluhan adalah  di Bale Desa Cibugel.  Sesuai rencana, acara penyuluhan dimulai tepat jam 08.00 WIB, diawali dengan sambutan dan pembukaan yang yang dilakukan oleh sekretaris kecamatan Cibugeul. Selanjutnya penyuluhan dialakukan secara panel, dimana  tiga orang nara sumber menyampaikan  materi penyuluhan secara bergantian. Ada tiga materi dari tiga orang nara sumber yang disampaikan dalam penyuluhan ini.

MITIGASI DAN ADAPTASI DAMPAK KEKERIANGAN DAN ANOMALI CUACA KEPADA PARA PETANI DI JAWA BARAT

Dalam kontek pemanasan global dan perubahan iklim, sektor pertanian mempunyai posisi penting dan strategis, bahkan menjadi tumpuan utama dalam penyediaan pangan bagi 245 juta penduduk Indonesia, penyedia bahan baku industri, serta penyumbang 10,7% PDB dengan nilai devisa sekitar US $ 16,7 Milyar.  Selain itu, sektor pertanian menyerap sekitar 39,9% tenaga kerja dan menjadi sumber utama pendapatan dari sekitar 70% rumah tangga pedesaan.

Pertanian dan perubahan iklim mempunyai keterkaitan yang multi-dimensi. Di satu sisi sektor pertanian, terutama tanaman pangan dan hortikultura paling rentan (vurnerable) sehingga menjadi korban (victim) dari perubahan iklim.  Di sisi lain, sektor pertanian juga ikut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca melalui berbagai praktek dan kegiatan produksi pertanian, baik dari lahan sawah, penggunaan pupuk anorganik yang tidak efisien, ternak ataupun pada pemanfaatan lahan yang tidak mengindahkan kaidah konservasi. Namun sebaliknya, sektor Pertanian juga memiliki potensi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui fotosintesis tanaman. Bahkan melalui peran multifungsinya, pertanian juga berkontribusi secara ekologis terhadap kualitas lahan, hidrologi dan lingkungan hidup.

Ancaman yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh perubahan iklim yaitu degradasi sumberdaya lahan pertanian dan terjadinya fenomena anomali cuaca yang tidak menentu yang berakibat pada kegagalan produksi pertanian. Keterbatasan dan fragmentasi lahan pertanian, serta konversi dan alih fungsi lahan pertanian ikut menambah beban berat pertanian dalam menjaga produktivitasnya.
Bertitik tolak dari peran strategis bidang pertanian serta peran para alumni Fakultas Pertanian Unpad terhadap perubahan iklim ini, maka Keluarga Alumni Fakultas pertanian Universitas Padjadjaran (KAFP Unpad) bekerjasama dengan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan ikut mengambil peran dengan melakukan kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan : Adaptasi dan Mitigasi Antisipasi Dampak Kekeringan dan Anomali Cuaca kepada para petani Cibugel Kabupaten Sumedang.   Khusus tahun ini kegiatan difokuskan pada aspek penanganan Dampak perubahan iklim melalui 3 (tiga) kegiatan, yaitu; (1) Sosialisasi tentang fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi, dampak dan penanggulangan yang dilakukan bagi kegiatan usaha budidaya pertanian, (2) Pembuatan demplot mengantisipasi dampak kekeringan dan anomali cuaca; (3) Merancang dan menerapkan teknologi aplikasi pompa air tenaga surya. Keseluruhan kegiatan ini mengambil lokasi di Kecamatan Cibugel Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat.

Kami sangat berterima kasih pada pemerintah propinsi Jawa Barat yang telah mengalokasikan anggaran dan mempercayakannya pada KAFP Unpad untuk dapat melakukan kegiatan yang berdampak pada peningkatan SDM dan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat Jawa Barat.  Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Bapak Kepala Bappeda Jawa Barat dan Bapak Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jabar yang telah memberikan pengarahan dan masukan serta dukungan dari jajaran Disperta Jabar demi suksesnya kegiatan ini.  Tak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Camat Cibugel, Kepala Desa Cibugel dan Kepala Desa Mekar Jaya yang dengan sepenuh hati mendukung kami.

Kami juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para pakar/narasumber (Prof. Dr. Tino Mutiarawati; Prof. Dr. Jajang Sauman Hamdani; Dr. Santi Rosniawaty; Dr. Betty Natalie, Dr. Edy Suryadi, Dr. Yayat Hidayat, Andre Daud, M.Si.; dan para alumni) yang senantiasa tetap peduli kepada kepentingan para petani, berbagi ilmu dan keterampilannya sesuai dengan bidang ilmu dan kepakaran.

Ucapan terima kasih pada team dari KAFP Unpad yang telah berjibaku dan meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan profesionalnya untuk melaksanakan kegiatan ini.  Akhirul kata, semoga kegiatan ini dapat memberi manfaat dan diridhoi oleh Allah SWT. 

Bandung,  Maret 2015

Tim Penyusun

Dr. Ir. Rija Sudirja, M.T.
Ir. Dewiati
Dr. Ir. Betty Natalie Fitriatin, M.P.
Ir. M. Iwan Ridwan
Ir. Yudi Satriadi
Ir. Dion Sulasdion
Ir. Herwanto
Ir. Pranata Catur Atmaja
Ir. Aries Yanimartono
Ir. Gun Gun Gunawan
Ir. Andre S. Daud, M.Si.

Minggu, 16 Maret 2014

SOSIALISASI DAN PENYULUHAN ANTISIPASI DAMPAK KEKERINGAN DAN ANOMALI CUACA KEPADA PARA PETANI DI JAWA BARAT


Ketersediaan pangan global, termasuk nasional dan juga lokal, sangat tergantung kepada sumberdaya alam yang akan berpengaruh terhadap produksi tanaman. Walaupun hujan, tempe¬ratur dan kondisi tanah sudah membentuk suatu sistem alami yang akan mendukung usaha-usaha pertanian, namun keadaan ini tidak stabil dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atmosfer secara terintegrasi. Manusia pada batas-batas tertentu dapat berinter¬vensi terhadap sumberdaya alam tadi.

Iklim (secara umum merupakan kombinasi dari hujan, temperatur, dan sinar matahari) adalah faktor pertumbuhan terpenting dalam produksi tanaman di lapangan. Adanya perubahan pada kondisi iklim akan berdampak luas bagi produksi pangan global.

Perubahan iklim global, eksploitasi tanah dan lahan  yang berlebihan, kekurang tepatan pengelolaan lahan, pada gilirannya akan berdampak terhadap potensi produksi pangan dan kesediaan pangan suatu daerah. Mengetahui karakteristik alam dengan baik, kemudian mengantisipasi dampak yang akan ditimbulkannya dan menetapkan cara-cara penanggu¬langannya,  adalah merupakan rangkaian usaha dan kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan.

Laporan kegiatan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu, kami senantiasa menerima berbagai saran yang membangun untuk kemajuan di masa yang akan datang.  Akhirul kata, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu seluruh proses berjalannya kegiatan sosialisasi dan penyuluhan ini. Semoga kegiatan yang sudah dilakukan ini memiliki guna manfaat bagi masyarakat sasaran khususnya, dan bagi para pembaca umumnya.

Tim Penyusun:

    Ketua Pelaksana         : Rija Sudirja
    Anggota :       M. Iwan Ridwan; Gun gun; Yudi; Dewiati;
                                               Dion Sulasdion; Oviyanti;
   Narasumber                  :       Dr. Sumadi; Dr. Betty Natalie Fitriatin; Dr. Santi Rosniawaty;
                                               Dr, Edy Suryadi; Idrus SP.; Dr. Ruminta




Bencana kekeringan kembali melanda Jawa Barat. Bencana ini tidak hanya terjadi di satu daerah saja, tapi juga meluas secara merata hampir di seluruh wilayah Jawa Barat. Berdasarkan keterangan yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini berlangsung hingga akhir bulan September 2012 di kawasan Jawa Barat bagian Selatan. Sedangkan untuk kawasan Jawa Barat bagian Utara (Pantura) akan berlangsung hingga awal bulan November 2012.

Perubahan siklus iklim ini jelas sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat. Di Kabupaten Cirebon, lebih dari 2.000 hektar sawah di lima kecamatan terancam gagal panen, akibat keringnya Waduk Setupatok yang merupakan sumber pengairan sawah para petani. Dari jumiah tersebut, sekitar 70 - 80 hektar tanaman padi di Kecamatan Mundu, bahkan terpaksa dibiarkan mati karena petani kesulitan mendapatkan sumber air alternatif untuk mengairi sawah mereka.

Di Majalengka, sekitar 230 hektar sawah dinyatakan puso. Jika setiap hektar rata-rata menghasilkan produksi sebanyak 5 ton, maka potensi kerugian akibat bencana kekeringan ini dapat mencapai sekitar 1150 ton. Belum lagi kerugian materiii dan immateriil lainnya yang diperkirakan dapat mencapai angka ratusan juta rupiah.

Tidak hanya di bidang pertanian, bencana kekeringan tahun juga sangat berdampak pada bidang perikanan. Sebanyak 150.000 petani budidaya ikan di Jawa Barat terpaksa menghentikan aktivitasnya. Salah satu penyebabnya adalah akibat terus menurunnya debit air di Waduk Jatiluhur. Begitu pun dengan petani budidaya ikan di kawasan Indramayu yang mengalami penurunan hasil produksi ikannya, karena hanya mampu mengandalkan tadah hujan guna mengairi kolamnya.

Dari dua bidang ini saja, terdapat potensi ancaman yang lebih besar, yaitu terjadinya krisis pangan di Jawa Barat. Krisis pangan ini dikhawatirkan dapat menyebabkan bencana kelaparan, kekurangan gizi serta memicu kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Yang tidak kalah tragis, adalah potensi konflik horizontal di masyarakat. Pemenuhan terhadap kebutuhan air bersih ini dapat menyebabkan masyarakat hilang kendali dan bertindak anarkis. Bahkan di salah satu daerah, masyarakat ramai-ramai meng¬gergaji pipa saluran air sebuah kolam renang. Tidak sedikit pula pihak yang mengambil keuntungan dari kebutuhan air bersih ini dengan menjual air kepada masyarakat. Lalu dimana peran Pemerintah untuk menjamin kesejahteraan dan keberlangsungan hidup masyarakat?

Keluarga alumni Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (KAFP Unpad) sebagai komunitas yang memiiiki potensi keahlian dalam bidang pertanian, tentunya memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan sumbangsih dan peranan dalam membantu petani dan nelayan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, khususnya dampak kekeringan ini. Sebagai bentuk tanggung jawab tersebut, KAFP Unpad mengajukan program antisipasi dampak kekeringan berupa penyuluhan dan sosialisasi kegiatan-kegiatan antisipasi.

Maksud dan tujuan dan kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan : Antipasi Dampak Kekeringan Dan Anomali Cuaca Kepada Para Petani Di Jawa Barat ini adalah : 
  • Melakukan Sosialisasi tentang  fenomena  perubahan iklim yang saat ini sedang terjadi dan dampak-dampaknya bagi kegiatan pertanian di Jawa Barat.
  • Invetarisasi masalah-masalah dalam bidang pertanian dalam kaitannya  dengan terjadi perubahan iklim.
  • Memberikan pemahaman dampak perubahan iklim global terhadap system usaha tani padi dan penanggulangan yang akan dilakukan pada system usaha tani padi pada kondisi anomaly cuaca.

Kamis, 13 Maret 2014

Pembangunan Pompa Air Tenaga Surya

Beberapa wilayah di Indonesia memiliki lahan pertanian ditempat yang lebih tinggi dari saluran air sehingga diperlukan proses pemindahan air dari sumber air kelahan pertanian, baik dengan cara yang tradisional dengan memikul perwadah air, atau denganteknologi sederhana seperti kincir air, atau dengan memanfaatkan mesin-mesin pompayang tentunya memerlukan energi yang tidak sedikit untuk melakukannya. Pada saat inisebagian masyarakat petani di Indonesia membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalammelakukan pemompaan air untuk mengairi lahan-lahan pertanian mereka, hal ini tentunyaakan menambah pengeluaran mereka sehingga hasil didapatkan akan semakin kecil,padahal terdapat energi yang cukup melimpah dan gratis yang dapat dimanfaatkan yaituenergi dari matahari. Energi matahari dapat dirubah menjadi energi listrik sehingga dapatmenggerakkan pompa air.

Foto Foto Kegiatan Pembangunan Pompa Air Tenaga Surya di Kabupaten Subang


Foto Foto Kegiatan Demplot Antisipasi Dampak Kekeringan dan Anomali Cuaca

Foto Foto Sosialisasi dan Penyeluhan Antisipasi Dampak Kekeringan dan Anomali Cuaca di Kabupaten Cirebon